Sabtu, 29 Juni 2013

tanda-tanda vital



Beberapa pemeriksaan Tanda vital yang sering digunakan dan relatif lebih mudah dikerjakan, seperti pemeriksaan


A. SUHU TUBUH

Suhu tubuh merupakan hasil keseimbangan antara produksi panas dan hilangnya panas dari tubuh ke lingkungan. Produksi panas yang dihasilkan tubuh antara lain berasal dari :

a. Metabolisme dari makanan ( Basal Metabolic Rate )

b. Olahraga

c. Shivering atau kontraksi otot skelet

d. Peningkatan produksi hormon tiroksin ( meningkatkan metabolisme   seluler )

e. Proses penyakit infeksi

f. Termogenesis kimiawi ( rangsangan langsung dari norepinefrin dan efinefrin atau dari rangsangan langsung simpatetik )

Sedangkan hilangnya panas tubuh terjadi melalui beberapa proses yaitu :

1. Radiasi adalah pemindahan panas dari satu benda ke benda lain tanpa melalui kontak langsung, misalnya orang berdiri didepan lemari es yang terbuka

2. Konduksi adalah pemindahan panas dari satu benda ke benda lainnya melalui kontak langsung, misalnya kontak langsung dengan es

3. Konveksi adalah pemindahan panas yang timbul akibat adanya pergerakan udara, misalnya udara yang berdekatan dengan badan akan menjadi hangat

4. Evaporisasi adalah pemindahan panas yang terjadi melalui proses penguapan, misalnya pernapasan dan perspiration dari kulit. Misalnya keringat meningkatkan pengeluaran panas tubuh



Suhu tubuh terjaga konstan meskipun adanya perubahan kondisi lingkungan. Hal ini disebabkan karena adanya proses pengaturan suhu melalui negatif feedback sistim ( mekanisme umpan balik ). Organ pengatur suhu yang utama adalah hipotalamus. Untuk regulasi panas tubuh diperlukan konsentrasi sodium dan kalsium yang cukup, terutama didalam dan disekitar Hipotalamus posterior. Variasi suhu orang yang sehat berkisar 0.7 derajat Celcius dari normal ( 1.4 F ).

Faktor- faktor yang mempengaruhi suhu tubuh yaitu antara lain :

1. Umur

Bayi yang baru lahir sangat dipengaruhi keadaan lingkungan sekitarnya, maka dari itu harus dilindungi dari perubahan iklim yang dapat berubah dengan cepat. Anak- anak mempunyai suhu yang lebih labil dari pada orang dewasa.

UMUR
SUHU ( Celcius )
SUHU (Fahrenheit )
Bayi baru lahir
36,1 – 37,7
97 – 100
2 tahun
37,2
98,9
12 tahun
37
98,6
Dewasa
36
96,8







2. Aktifitas tubuh

Aktifitas otot dan proses pencernaan sangat mempengaruhi suhu tubuh. Pada pagi hari jam 04.00 – 06.00 suhu tubuh paling rendah, sedangkan sore hari sekitar jam 16.00 – 20.00 yang paling tinggi, perubahan suhu berkisar antara 1.1 – 1.6 C ( 2 – 3 F ).

3. Jenis Kelamin

Wanita lebih efisien dalam mengatur suhu internal tubuh dari pada pria, hal ini disebabkan karena hormon estrogen dapat meningkatkan jaringan lemak. Meningkatnya progesteron selama ovulasi akan meningkatkan suhu wanita sekitar 0.3 – 0.5 C (0.5 – 1 F) sedangan estrogen dan testoteron dapat meningkatkan Basal Metabolic Rate

4. Perubahan emosi

Emosi yang meningkat akan menambah kadar Adrenalin dalam tubuh sehingga metabolisme meningkat dan suhu tubuh menjadi naik.

5. Perubahan Cuaca

Perubahan cuaca , Iklim, atau musim mempengaruhi Evaporasi, radiasi, konveksi, konduksi, sehingga mempengaruhi metabolisme dan suhu tubuh

6. Makanan, minuman, rokok, dan lavemen

Makanan, minuman dan rokok dapat merubah suhu oral, misalkan Minum air es dapat menurunkan suhu oral sekitar 0.9 C (1.6 F). Untuk itu dianjurkan mengukur suhu oral sekitar 30 menit setelah makan, minum atau merokok , sedangkan tempertur rectal diukur setelah 15 menit melakukan lavemen / enema.

a. Alat Pengukur Suhu Tubuh

Secara umum pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer kaca (glass thermometers). Skala yang sering digunakan adalah termometer skala Celcius ( Centigrade) yang mempunyai skala dengan titik beku air 0 derajat Celcius dan titik didih 100 derajat Celcius. Ada pula digital thermometer yang mempunyai kepekaan tinggi dan waktu pemeriksaan hanya beberapa detik , banyak dipakai pada kondisi kegawatan.

b. Pengukuran Suhu Tubuh

Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan dibeberapa tempat yaitu di mulut (oral), anus(rectal), ketiak (axilla) dan telinga ( auricular ) . Masing- masing tempat mempunyai variasi suhu yang berlainan. Suhu rektal biasanya berkisar 0.4 C (0.7 F) lebih tinggi dari suhu oral dan suhu aksila lebih rendah 0.6 C (1 F) dari pada oral . Di Puskesmas biasanya yang sering dipergunakan adalah pemeriksaan suhu aksila.

Pemeriksaan Suhu Aksila dengan Termometer Air Raksa

Pengukuran suhu aksila dianggap paling mudah dan aman, namun kurang akurat. Penggunaan sering dilakukan pada :

1. Anak

2. Pasien dengan radang mulut

3. Pasien yang bernapas dengan mulut atau menggunakan alat bantu napas



 Persiapan pemeriksaan suhu :
1). persiapan peralatan

1. Cucilah tangan

2. Siapkan soft tissue atau lap bersih

3. Siapkan buku pencatat suhu dan alat tulis

4. Sebuah handuk bersih untuk membersihkan keringat pasien

2). Persiapan pasien

1. Jagalah privasi pasien dengan tirai atau pintu tertutup.

2. Jelaskan kepada pasien tentang pentingnya pemeriksaan suhu aksila

3. Lepaskan baju pasien dan bagian lain ditutup dengan selimut.

3). Cara pemeriksaan

1. Pegang termometer pada bagian ujung yang tumpul.

2. Bersihkan dengan soft tissue atau cucilah dalam air dingin bila disimpan dalam desinfektan serta bersihkan dengan lap bersih

3. Peganglah ujung termometer yang tumpul dengan ibu jari dan jari kedua, turunkan tingkat air raksa sampai angka 35 derajat celsius

4. Bukalah lengan pasien.

5. Bersihkan keringat pasien dengan handuk yang kering/ tissue

6. tempelkan termometer ke ketiak, turunkan lengan dan silangkan lengan bawah pasien keatas dada, sedangkan pada anak pegang tangannya dengan lembut.

7. Biarkan selama 5-10 menit untuk hasil yang baik.

8. Angkat termometer dan bersihkan dengan soft tissue/ lap bersih dengan gerak rotasi.

9. Bacalah tingkat air raksa sejajar dengan mata pemeriksa.

10. Turunkan tingkat air raksa <>0C.

11. Kembalikan termometer ke tempat penyimpanan.

12. Cuci tangan.

13. Informasikan ke pasien dan catat hasil pemeriksaan pada buku.




B. DENYUT NADI

Denyut nadi (pulse) adalah getaran/ denyut darah didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Denyut ini dapat dirasakan dengan palpasi yaitu dengan menggunakan ujung jari tangan disepanjang jalannya pembuluh darah arteri, terutama pada tempat- tempat tonjolan tulang dengan sedikit menekan diatas pembuluh darah arteri. Pada umumnya ada 9 tempat untuk merasakan denyut nadi yaitu temporalis, karotid, apikal, brankialis, femoralis, radialis, poplitea, dorsalis pedis dan tibialis posterior, namun yang paling sering dilakukan yaitu :

1. Arteri radialis

Terletak sepanjang tulang radialis, lebih mudah teraba diatas pergelangan tangan pada sisi ibu jari. Relatif mudah dan sering dipakai secara rutin

2. Arteri Brankialis

Terletak di dalam otot biceps dari lengan atau medial di lipatan siku (fossa antekubital). Digunakan untuk mengukur tekanan darah dan kasus cardiac arrest pada infant

3. Arteri Karotid

Terletak dileher dibawah lobus telinga, dimana terdapat arteri karotid berjalan diantara trakea dan otot sternokleidomastoideus. Sering digunakan untuk bayi, kasus cardiac arrest dan untuk memantau sirkulasi darah ke otak

Frekuensi denyut nadi manusia bervariasi, tergantung dari banyak faktor yang mempengaruhinya, pada saat aktifitas normal :

· Normal : 60 – 100 x / menit,

· Bradikardi : <>

· Takhikardi : > 100. x / menit

Denyut nadi pada saat tidur yaitu :

a. Bayi baru lahir 100 – 180 x/menit

b. Usia 1 minggu – 3 bulan 100 – 220 x/ menit

c. Usia 3 bulan – 2 tahun 80 – 150 x/menit

d. usia 10 –21 tahun 60 – 90 x/menit

e. Usia lebih dari 21 tahun 69 – 100 x/menit

Berdasarkan kuat dan lemahnya denyut arteri diklasifikasikan :

I. Tidak teraba denyut : 0

II. Ada denyut tetapi sulit teraba : +1,

III. Denyut normal teraba dengan mudah dan tidak mudah hilang : +2

IV. Denyut kuat, mudah teraba seakan- akan memantul terhadap ujung jari serta tidak mudah hilang : + 3



1. PEMERIKSAAN FREKUENSI NADI

Pemeriksaan frekuensi nadi yang umum dilakukan adalah sebagai berikut :

A. Pemeriksaan frekuensi denyut arteri radialis

1) Persiapan alat

1. Alat pengukur waktu (jam tangan dengan jarum detik, stop watch)

2. Buku catatan nadi ( kartu status )

3. Alat tulis

2) Persiapan pasien

1. Jelaskan pada pasien perlunya pemeriksaan yang akan dilakukan

2. Buatlah pasien rilek dan nyaman .

3) Cara pemeriksaan

1. Cuci tangan pemeriksa

2. minta pasien untuk menyingsingkan baju yang menutupi lengan bawah

3. Pada posisi duduk, tangan diletakkan pada paha dan lengan ekstensi. Pada posisi tidur terlentang, kedua lengan ekstensi dan menghadap atas.

4. Lakukan palpasi ringan arteri radialis dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah ,lakukan palpasi sepanjang lekuk radial pada pergelangan tangan

5. Rasakan denyut arteri radialis dan irama yang teratur

6. Hitung denyut tersebut selama satu menit ,

7. Informasikan ke pasien dan catat hasil pemeriksaan pada buku.

B. Pemeriksaan frekuensi denyut arteri brakialis

1) Persiapan alat

1. Alat pengukur waktu (jam tangan dengan jarum detik, stop watch)

2. Buku catatan nadi ( kartu status )

3. Alat tulis

2) Persiapan pasien

1. Jelaskan pada pasien perlunya pemeriksaan yang akan dilakukan

2. Buatlah pasien rilek dan nyaman

3) Cara pemeriksaan

1. Cuci tangan pemeriksa

2. Menyingsingkan lengan baju pasien yang menutupi lengan atas

3. Pada posisi duduk, tangan diletakkan pada paha dan lengan ekstensi. Pada posisi tidur terlentang, kedua lengan ekstensi dan menghadap atas.

4. Lakukan palpasi ringan arteri dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah pada fossa kubiti (lekuk antara otot bisep dan trisep diatas siku)

5. Rasakan denyut arteri brankialis dan irama yang teratur

6. Hitung jumlah denyut selama satu menit

7. Informasikan ke pasien dan catat hasil pemeriksaan pada buku







C. Pemeriksaan frekwensi denyut arteri karotis

1) Persiapan alat

1. Alat pengukur waktu (jam tangan dengan jarum detik, stop watch)

2. Buku catatan nadi ( kartu status )

3. Alat tulis

2) Persiapan pasien

1. Jelaskan pada pasien tentang perlunya pemeriksaan ini.

2. Buatlah pasien serilek dan senyaman mungkin

3) Cara pemeriksaan

1. Cuci tangan pemeriksa dengan air bersih

2. minta pasien melepaskan baju sehingga bagian leher terlihat jelas

3. pasien duduk dengan posisi tangan diistirahatkan diatas paha

4. Inspeksi kedua sisi leher untuk melihat denyut arteri karotis

5. Mintalah pasien untuk memalingkan kepala pada sisi arah yang berlawanan dengan yang akan diperiksa

6. Kemudian lakukan palpasi dengan lembut, jangan terlalu keras untuk menghindari rangsangan sinus karotid

7. Dengan menggunakan jari tengah dan telunjuk palpasi sekitar otot sternokleidomastoideus bagian medial

8. Perhatikan perubahan denyut pada saat menarik atau menghembuskan napas

9. Hitung frekuensi nadi dengan alat pengukur waktu untuk 30 detik, kemudian hasilnya dikalikan 2. Bila irama tidak teratur hitung selama 1 menit.

C. PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH

Pemeriksaan tekanan darah diperoleh dari pengkuran pada sirkulasi arteri. Aliran darah akibat pemompaan jantung menimbulkan gelombang yaitu gelombang tinggi yang disebut tekanan systole dan gelombang pada titik terendah yang disebuttekanan diastole. Perbedaan antara systole dan diastole disebut pulse pressure.Satuan Tekanan darah dinyatakan dalam millimeter air raksa (mm hg).

Hindari penempatan manset pada lengan yang terpasang infus, terpasang shunt arterivena, graft, operasi payudara, ketiak serta pengangkatan limfe, lengan/ tangan yang mengalami fistula, trauma dan tertutup gip atau balutan keras.

1) Persiapan alat

1. sphygmomanometer air raksa lengkap dengan manset.

2. stetoscope

3. antiseptik

2) Persiapan pasien

1. Jelaskan kepada pasien tentang perlunya pemeriksaan tekanan darah

2. Jelaskan bahwa lengan akan dipasangi manset yang bila dipompa akan menekan, sehingga terasa tidak enak/ kesemutan .





3) Cara pemeriksaan

1. pemeriksa mencuci tangan

2. mintalah pasien untuk membuka bagian lengan atas yang akan diperiksa, sehingga tidak ada penekanan pada a. brachialis.

3. posisi pasien bisa berbaring, setengah duduk atau duduk yang nyaman dengan lengan bagian volar diatas.

4. Gunakan manset yang sesuai dengan ukuran lengan pasien

5. pasanglah manset melingkar pada lengan tempat pemeriksaan setinggi jantung, dengan bagian bawah manset 2 – 3 cm diatas fossa kubiti dan bagian balon karet yg menekan tepat diatas arteri brachialis.

6. pastikan pipa karet tidak terlipat atau terjepit manset.

7. Istirahatkan pasien sedikitnya 5 menit sebelum pengukuran. Dan pastikan pasien merasa santai dan nyaman.

8. hubungkan manset dengan sphymomanometer air raksa , posisi tegak dan level air raksa setinggi jantung.

9. raba denyut a. brachialis pada fossa kubiti dan a. radialis dengan jari telunjuk dan jari tengah ( untuk memastikan tidak ada penekanan )

10. pastikan mata pemeriksa harus sejajar dengan permukaan air raksa ( agar pembacaan hasil pengukuran tepat )

11. tutup katup pengontrol pada pompa manset

12. pastikan stetoskop masuk tepat kedalam telinga pemeriksa, raba denyut a. brachialis

13. pompa manset sampai denyut a brachialis tak teraba lagi

14. kemudian pompa lagi sampai 20 – 30 mm Hg ( jangan lebih tinggi, sebab akan menimbulkan rasa sakit pada pasien, rasa sakit akan meningkatkan tensi )

15. letakkan kepala stetoskop diatas a brachialis

16. Lepaskan katup pengontrol secara pelan-pelan sehingga air raksa turun dengan kecepatan 2 – 3 mm Hg per detik atau 1 skala perdetik

17. Pastikan tinggi air raksa saat terdengar detakan pertama arteri brachialis ( Korotkoff I ) è ini adalah tekanan sistolik

18. pastikan tinggi air raksa pada saat terjadi perubahan suara yang tiba-tiba melemah ( Korotkoff IV ) è tekanan diastolik

19. lepaskan stetoskop dari telinga pemeriksa dan manset dari lengan pasien.

20. Bersihkan earpiece dan diafragma stestokop dengan disinfektan

21. Apabila ingin diulang tunggu minimal 30 detik

22. informasikan pada pasien hasil pemeriksaan dan Catat pada kartu status











Tabel tekanan darah

No
USIA
Tekanan
Sistole (mm Hg )
Tekanan
Diastole (mm Hg )
1
2
3
4
5
Bayi
Anak 7 - <>
Ø 10 - <>
Laki- laki
Perempuan
Usia tengah
Usia lanjut
65 – 115
87 – 117
124 – 136
124 – 127
120
140 – 160
42 – 80
48 – 64
77 – 84
63 – 74
80
80 – 90

D. PEMERIKSAAN FREKUENSI PERNAPASAN

Seseorang dikatakan bernapas bila menghirup oksigen (O2) dan mengeluarkan karbon dioksida (CO2) melalui sistim pernapasan. Bernapas dapat dalam dan dapat pula dangkal. Pernapasan yang dalam akan mempunyai volume udara yang besar, baik pada waktu tarik napas/ inspirasi/ inhalasi atau pada waktu mengeluarkan napas/ ekspirasi/ekshalasi. Sedangkan pada pernapasan dangkal maka volume udara akan mengecil.



INSPIRASI
EKSPIRASI
Diafragma
Kontraksi ( tampak datar )
Relaksasi ( melengkung keatas )
Tulang iga ( costae )
bergerak keatas & keluar
bergerak kebawah & kedalam
Tulang dada
Bergerak keluar
Bergerak kedalam
Rongga dada
membesar
mengecil
Paru-paru
mengembang
mengempis

Frekuensi napas normal tergantung umur :

· Usia baru lahir sekitar 35 – 50 x/menit

· Usia <>

· usia 2-12 tahun 18 – 26 x/menit

· dewasa 16 – 20 x/menit.

· Takhipnea :Bila pada dewasa pernapasan lebih dari 24 x/menit

· Bradipnea : Bila kurang dari 10 x/menit disebut

· Apnea : Bila tidak bernapas .

1). Persiapan alat

1. Alat pengukur waktu (jam, stopwatch)

2. Buku pencatat

3. Alat pencatat (pensil, pena)

2). Persiapan pasien

1. Jelaskan pentingnya pemeriksaan frekuensi napas

2. Posisi pasien berbaring, kecuali dalam kondisi tertentu.

3). Cara pemeriksaan

1.       tempatkan satu telapak tangan pasien diatas dada

2.       Rasakan gerakan napas dengan memegang tangan pasien atau dengan melihat gerakan dada/ tangan yang naik turun. Gerakan naik (inhalasi) dan turun (ekhalasi) dihitung 1 frekuensi napas

3.       Hitung frekuensi napas selama satu menit

4.       informasikan hasil pemeriksaan dan catat pada status

E. PEMERIKSAAN BERAT BADAN

1). Persiapan alat

1. timbangan badan

2. alat pencatat

2). Persiapan pasien

1. Jelaskan pentingnya pemeriksaan yang akan dilakukan

3). Cara pemeriksaan

1. pastikan timbangan badan berfungsi baik dan stel penunjuk pada titik nol.

2. pastikan tidak ada beban ditubuh pasien yang mempengaruhi penimbangan.

3. pasien diminta naik keatas timbangan atau bila bayi baringkan diatasnya.

4. perhatikan angka tempat penunjuk berhenti

5. informasikan hasil pemeriksaan pada pasien dan catat pada status

F. PEMERIKSAAN TINGGI BADAN

1). Persiapan alat

1. meteran pengukur tinggi badan

2. penggaris atau sejenis

2). Persiapan pasien

1. Jelaskan proses dan pentingnya pemeriksaan yang akan dilakukan

3). Cara pemeriksaan

1. pastikan meteran pengukur berfungsi baik ( tergantung macam )

2. minta pasien berdiri tegak sejajar pengukur

3. pemeriksan menggunakan penggaris atau sejenis menaruh di ubun-ubun pasien sejajar dengan tempat pijakan

4. perhatikan angka yang ditunjuk oleh penggaris ( centimeter / inchi )

5. informasikan hasil pemeriksaan pada pasien dan catat pada status.

E. PEMERIKSAAN ELASTISITAS KULIT

Elastisitas kulit atau turgor menggambarkan keadaan keseimbangan cairan tubuh .secara sederhana dengan melakukan pemeriksaan turgor kulit .dapat diketahui derajat kekurangan cairan tubuh (dehidrasi).

1). Persiapan alat

1. stop watch

2. tissue

2). Persiapan pasien

1. Jelaskan pentingnya pemeriksaan frekuensi napas

2. Posisi pasien berbaring, atau duduk.

2) cara pemeriksaan

1. pastikan bagian ( lengan / perut ) yang akan diperiksa terbuka

2. bersihkan kulit yang akan diperiksa dengan tissue

3. pemeriksa menjepitkan ibu jari dan telunjuk pada kulit,

4. lepaskan jepitan dan perhatikan waktu yang diperlukan kulit untuk kembali seperti semula ( dalam detik ).

5. informasikan hasil pemeriksaan pada pasien dan catat pada status

Jumat, 28 Juni 2013

definisi dekontaminasi




Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman benda-benda (peralatan medis, sarung tangan, meja perlengkapan) yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Cara memastikannya adalah segera melakukan dekontaminasi terhadap benda-benda tersebut setelah terpapar atau terkontaminasi darah atau cairan tubuh langkah pertama menangani peralatan, perlengkapan, saung tangandan benda-benda lainnya yang terkontaminasi.
Produk-Produk Dekontaminasi            :
Ø     Larutan Klorin 0,5%-0,1%
Ø     Etil 70%
Ø     Bahan Fenolik dan Karbon 0,5%-3%
Cara Pembuatan Larutan Klorin     :
v     Klorin 0,5%
v     Klorin 0,1%
Cara-Cara Dekontaminasi   :
1.  Lakukan dekontaminasi terhadap alat-alat dengan cara merendamnya dengan menggunakan larutan desifeektan (klorin 0,5%) selama 10 menit. Langkah ini dapat membunuh virus hepatitis B dan AIDS.
2.  Jangan merendam instrument logam yang berlapis elektron (artinya tidak 100% baja tahan gores) meski dalam air biasa selama beberapa jam karena akan berkarat.
3.  Setelah dekontaminasi instrumen harus segera dicuci dengan air dingin untuk menghilangkan bahan organik sebelum dibersihkan secara menyeluruh.
4.  Jarum habis pakaidan semprit harus diletakkan dalam wadah yang baik untuk di kubur.
5.  Apabila akan digunakan kembali maka jarum dan semprit harus dibersihkan dan dicuci secara menyeluruh setelah dekontaminasi.
6.  Sekali instrumen atau benda lainnya telah didekontaminasi maka selanjutnya di proses dengan aman.

Rabu, 26 Juni 2013

memilih pakaian sesuai bentuk tubuh


Semua wanita itu cantik. Jadi tidak hanya foto model, aktris, atau penyanyi saja yang cantik.
Salah satu alasan bahwa semua wanita cantik adalah karena wanita hadir dengan berbagai bentuk dan ukuran tubuh.
Tidak ada seorang wanita pun yang sama persis dengan yang lainnya, setiap wanita adalah unik dan spesial.
Setiap wanita juga ingin tampil sebaik mungkin. Salah satu caranya adalah dengan memakai pakaian yang dapat membuat diri terlihat sempurna sesuai ukuran dan bentuk tubuh.
Berikut adalah tips memilih pakaian sesuai dengan bentuk tubuh:
Bentuk Tubuh seperti Apel (Apple Shaped)
1. Untuk Anda yang memiliki bentuk tubuh seperti apel, belilah blouse yang ukurannya pas di payudara.  Pakailah atasan yang sesuai dengan bentuk tubuh. Pilih jaket yang memiliki kerah panjang.
2. Hindari atasan dengan bentuk empire-waist dan turtlenecks. Atasan dengan kerah berbentuk V biasanya akan cocok. Cobalah memakai warna-warna terang dan cerah untuk kemeja dan blouse.
3. Pakailah celana atau rok yang berwarna gelap. Untuk menyembunyikan berat badan yang berlebih di bagian tengah, pakailah celana atau rok di atas lingkar pinggang. Belilah celana dengan bagian kaki yang lebar (wide-legged).
Bentuk Tubuh seperti Buah Pear (Pear Shaped)
1. Bagi Anda yang memiliki tubuh berbentuk seperti buah pear, memakai atasan atau blouse yang berwarna hitam akan membuat tubuh terlihat lebih ramping.
Anda juga bisa mencoba t-shirt atau atasan tanpa lengan. Eksperimen dengan penampilan yang berbeda akan menarik perhatian orang-orang pada tubuh bagian atas.

2. Kenakan atasan dengan berbagai warna dan pola atau memakai atasan yang berleher lebar. Gaun dan rok harus jatuh di atas lulut Anda. Hindari pakaian yang ketat.
3. Celana low-rise adalah pilihan yang cocok untuk wanita yang berbentuk seperti buah pear. Hindari celana dengan kantong di samping karena hanya akan memberikan penekanan pada pinggul. Celana lebar atau potongan boot akan menghindarkan perhatian orang dari pinggul Anda.

Plus Size
1. Untuk Anda yang memiliki ukuran tubuh besar, gunakan pakaian yang pas di badan. Pakaian yang terlalu besar hanya akan membuat Anda terlihat lebih besar.
Carilah atasan dan blouse yang memiliki detail pada leher untuk menarik perhatian orang pada wajah Anda.
2. Baju yang berpola akan baik-baik saja selama sesuai dengan ukuran tubuh. Cobalah pola garis-garis vertikal yang proporsional dengan ukuran tubuh agar perhatian cenderung ke atas dan ke bawah, bukan ke arah samping.
3. Pilihlah pakaian yang senada. Semua pakaian harus lentur. Carilah bagian terkecil dari pinggang Anda, dan tekanlah atau ikat bagian tersebut dengan menggunakan ikat pinggang.

Boyish Figure
1. Belilah baby doll blouse dan gaun dengan ruffles dan detail di sekitar payudara Anda. Berikan perhatian pada bahu, leher, dan wajah dengan mengunakan spaghetti straps dan tank top.
2. Gunakan pakaian yang membentuk pinggang Anda. Berkesperimenlah dengan berbagai jenis ikat pinggang. Warna-warni, tekstur, danberbagai pola akan tampak bagus untuk Anda.
3. Carilah pakaian yang akan membuat Anda terlihat lebih tinggi. Hindari t-shirts dan cropped tops. Rok akan terlihat sangat bagus pada wanita dengan boyish figure. Hindari celana potongan boot dan jeans, pakailah celana dengan potongan kaki yang lurus.[]

Tips Aman Program Langsing Setelah Melahirkan

Masa kehamilan identik dengan bertambahnya berat badan dengan angka yang cukup signifikan. Hal ini tak pelak membuat khawatir para perempuan yang sebelum hamil telah mati-matian mendapatkan bentuk tubuh ideal yang mereka idamkan. Sebab itulah tidak mengherankan jika setelah melahirkan, banyak perempuan yang terobsesi untuk kembali mendapatkan bentuk tubuh ideal dengan menjalani semacam program untuk bisa langsing setelah melahirkan. Hal ini tampaknya cukup terburu-buru sebab perempuan yang ketika itu telah menjadi seorang ibu tidak bisa hanya mempertimbangkan penampilannya saja, akan tetapi juga harus menjaga kesehatan dan ASI eksklusif untuk bayi yang baru dilahirkannya.
Sebab itulah, perempuan khususnya mereka yang memberikan ASI eksklusif pada buah hatinya baiknya menunda program langsing setelah melahirkan pada kurang lebih enam bulan pertama setelah melahirkan atau selama mereka memberikan ASI eksksluif pada sanga buah hati. Penundaan ini lebih kepada upaya ibu memprioritaskan kesehatan dan tubuh kembang buat hati. Masa-masa menyusui merupakan masa yang cukup sulit dalam kehidupan seorang ibu karena mereka harus benar-benar menjaga dan mengatur pola maupun menu makanan. Beberapa orang tertentu bahkan mewajibkan diri mengkonsumsi makanan-makanan tertentu, sehingga kondisi ini sangat tidak mendukung untuk melakukan program langsing setelah melahirkan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa dalam masa menyusui, sebagian perempuan mengalani penurunan berat badan sehingga mereka tidak perlu susah-susah menjalankan program diet yang bertujuan untuk kembali langsing setelah melahirkan.
Setelah masa menyusui ekslusif berakhir, barulah sebaiknya para ibu mulai memikirkan program langsing setelah melahirkan. Pada masa ini mereka tidak lagi memiliki tuntutan untuk mengkonsumsi makanan-makanan tertentu, sehingga mereka lebih leluasa untuk menjalakan program diet. Namun demikian, meskipun masa ’kebebasan’ ini telah tiba, para ibu tidak disarankan untuk teralu berambisi dan membabi buta dalam merencanakan dan menjalankan program langsing setelah melahirkan. Hal ini mengharuskan perempuan untuk tetap selektif menerima dan memilih berbagai tawaran yang datang padanya, seperti pelangsing instant maupun suplemen kilat untuk menurunkan berat badan sebab sebaiknya terlebih dahulu berkonsultasi pada dokter. sebaiknya Anda meniatkan langsing setelah melahirkan sebagai bonus dari kesehatan optimal dan badan yang proporsional. Dengan niat demikian, Anda tentu akan lebih sabar menjalani proses atau program diet yang sehat dengan memilih langkah-langkah diet yang tidak terlalu ekstrim, seperti dengan mengatur pola makan dan dengan rutin berolahraga. Banyak para perempuan yang sukses menjalani program langsing setelah melahirkan hanya dengan melakukan hal-hal kecil namun sehat tersebut sebab mereka tidak mempertaruhkan kesehatan dan kebugaran tubuh mereka hanya untuk menjaga penampilan.
Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info